yose.is-a.dev

Back

Berapa tahun lalu sa baca cerita yang sa rasa semua yang besar di Papua mungkin pernah rasa juga. Cerita ini dari masa Perang Dunia kedua, di kepulauan Pasifik, termasuk di tong pu sodara-sodara di PNG dan Vanuatu. Pas perang, pesawat-pesawat tentara datang turun di pulau - bawa makanan kaleng, pakaian, alat, semua barang yang asing dan ajaib yang tra pernah dong lihat sebelumnya. Habis perang selesai, tentara pergi, pesawat tra datang lagi. Tapi orang-orang masih ingat barang-barang itu, dan dong mau supaya datang lagi. Jadi dong bangun landasan dari bambu, bikin tower dari kayu, ada satu orang duduk di situ pake “headset” dari batok kelapa, antena dari ranting. De pu bentuk persis sama dengan apa yang dong lihat dari tentara dulu; ritual juga dilakukan, doa-doa dipanjatkan supaya pesawat datang lagi. Tapi pesawat tra pernah datang lagi.

Antropolog dari luar lihat itu dan dong kasih nama “cargo cult.” Dong anggap itu primitif, lucu, kasihan, jadi bahan untuk makalah-makalah yang dong tulis di kampus-kampus jauh sana. Padahal, kalau tong duduk renungkan dengan jujur sebentar saja, sa kira “sindrom” yang sama itu sekarang ada di mana-mana, di Papua, di Indonesia, dan jujur saja di berbagai tempat di seluruh dunia juga - cuma aktor dari “sindrom” ini sekarang pake jas, pake nametag, pake spanduk, pake pita panjang, pake mobil mahal, dan trada lagi yang berani bilang itu cargo cult karena yang lakukan itu sekarang orang-orang penting yang ada gelar banyak.

Su dari lama mau tulis ini, tapi tra pernah tau mau mulai dari mana. Karena kalau sa mulai dari acara peresmian ka, sosialisasi ka, rapat-rapat tra jelas ka, rasanya itu cuma satu lapisan paling luar. Ini sa rasa lebih dari hanya acara-acara/seremoni palsu - dan ini yang Feynman, fisikawan dari Amerika itu, juga pernah bahas di de pu pidato untuk wisudawan Caltech tahun 1974. De bilang dalam sains pun ada cargo cult: peneliti yang bikin penelitian yang bentuknya betul - ada hipotesis, ada metode, ada paper, ada konferensi, ada peer review - tapi dong sebenarnya tra cari kebenaran. Dong cari pengakuan, dong cari hibah, dong cari tepuk tangan. De pu bentuk persis dengan riset yang betul-betul ada isi dan motivasi cari jawaban, tapi “pesawat tra pernah datang”. Trada penemuan baru yang muncul, trada pemahaman baru yang lahir, trada apa-apa selain laporan tahunan dan foto.

Kalau Feynman saja sudah lihat itu di Caltech (tempat yang punya peneliti-peneliti terbaik di dunia, tahun 1974), bayangkan apa saja yang terjadi di tempat-tempat yang baru mulai bangun struktur ilmu masing-masing, tempat yang baru tahu tentang “lab penelitian” dari bacaan dan film dan karena dapat perintah buta-buta macam, “ko bikin ini boleh, nanti bagus”. Tong di Papua, atau di Indonesia ka - sebenarnya lagi alami fase yang sama, tapi lebih luas dari sains saja. Tong bangun lab penelitian karena tong tau saja kampus-kampus harus punya lab penelitian; orang tanya “untuk teliti apa?”, jujur saja kadang trada yang bisa jawab, dan trada yang tanya juga - yang penting ada gedung dengan tulisan “Pusat Riset” di depan, ada peresmian, ada foto rektor potong pita, setelah itu lab itu jadi tempat foto wisuda dan tempat parkir alat-alat mahal tapi tra dipakai. Tong bikin acara peluncuran startup yang besar hampir sama dengan acara peluncuran SpaceX, padahal “startup”-nya cuma situs HTML statis dengan satu fitur login yang kadang juga error. Dan ini bukan salah orang yang bikin - itu wajar dong bangga, sa juga senang kalau ada anak Papua yang bisa coding dasar. Tapi yang jadi masalah adalah ketika hiperbola (pernyataan melebih-lebihkannya) itu justru jadi batasan/langit-langit yang tong secara tidak langsung tetapkan; ketika pujian “sio ko sudah luar biasa, ko jenius” jadi pengganti kalimat yang sebenarnya bisa lebih memotivasi, macam “ini bagus untuk memulai, sekarang coba yang lebih susah.” Karena kam semua tau kalau anak yang baru mulai dan dipuji seakan-akan de sudah sampai di puncak, de trakan tau kalau puncak itu sebenarnya masih jauh sekali, dan de akan berhenti di tempat sambil percaya kalau de sudah sampai.

Ini yang sa rasa inti dari “sindrom seremonial”. Bukan acara seremoninya yang salah - acara itu penting, pernikahan, duka, syukuran adat, peresmian rumah baru, itu semua tong butuh untuk jadi manusia dan jadi komunitas. Dan seringkali pujian itu bisa jadi sumber kepercayaan diri untuk komunitas termarjinal macam tong. Tapi yang salah adalah ketika acara itu jadi pengganti dari kerja yang seharusnya ada di belakang acara, ketika “landasan bambu” itu jadi tujuan yang nyata, bukan lagi alat supaya tong pu pesawat sendiri bisa mendarat. Bukan pujian yang salah, tapi pujian yang jadi “langit-langit” yang membatasi. Bukan tiru bentuk yang salah - semua orang belajar dari meniru, tong semua mulai dari sana - tapi tiru bentuk tanpa pernah tanya kenapa bentuknya begitu, masalah apa yang sebenarnya bentuk itu coba selesaikan dulu di tempat asalnya.

Dan kalau ko tanya kenapa ini terjadi, sa rasa jawabannya tra bisa cuma satu. Ada beberapa lapisan yang harus tong sentuh, dan tong harus jujur dengan diri sendiri di tiap lapisan.

Lapisan pertama: Insentif dan Seremoni#

Lapisan pertama, yang paling jelas, itu insentif. Anggaran lebih mudah cair untuk acara-acara seremoni dibanding untuk kerja teknis berkelanjutan yang sunyi dan lama. Foto bisa dilampirkan ke laporan, hasil teknis sulit dibuktikan dalam satu lembar A4. Pejabat yang bikin acara meriah terlihat sukses di mata atasan; pejabat yang habiskan tiga tahun untuk perbaiki sistem secara diam-diam tra terlihat oleh siapa-siapa, dan kadang malah dianggap kerja kurang. Jadi yang dapat reward bukan yang kerja, tapi yang bisa akrobat bikin pertunjukan paling “wah”. Ada konsep yang pas gambarkan ini dari yang namanya Goodhart, ekonom dari Inggris (tra penting juga de siapa, yang penting de pu konsep benar, berbobot, dan masuk akal). De bilang: pas satu ukuran/metrik jadi target akhir, ukuran/metrik berhenti jadi ukuran yang baik. Pas foto kegiatan jadi target, kegiatan itu sendiri tra penting lagi - yang penting fotonya. Pas indikator kinerja jadi target, kinerja sebenarnya jadi tra penting lagi - yang penting laporannya bagus. *Sebagai sampingan saja: ada alasan kenapa uang, status, dll, itu dangkal - karena itu indikator/metrik dari hal-hal lain yang lebih dalam/bermakna. *

Lapisan kedua: Struktur Tanpa Akar#

Lapisan kedua, yang lebih penting untuk tong sebagai orang-orang bekas jajahan, adalah ini: tong tra punya banyak waktu untuk bangun struktur dari bawah dengan tangan tong sendiri. Yang tong dapat dari Belanda dulu, dari Jakarta sekarang, dari donor luar dan organisasi internasional, itu semua bentuk yang sudah jadi. Lab penelitian bentuknya begini. Berokrasi bentuknya begini. Universitas bentuknya begini. Demokrasi bentuknya begini. NGO bentuknya begini. Tong terima bentuk-bentuk itu, kadang dengan paksa kadang dengan senang hati, tapi tong tra selalu dikasih tau (atau mau cari tau) kenapa bentuk itu dibuat begitu, masalah apa yang dong coba selesaikan dulu di tempat asalnya dengan bentuk-bentuk itu, kenapa dia berbentuk seperti itu dan bukan bentuk lain. Jadi tong tiru bentuk, tapi tra kuasai isinya. Persis macam sodara-sodara di PNG dulu yang tiru landasan tapi tra paham aerodinamika. Persis macam peneliti yang Feynman bicarakan, yang tiru metode tapi trada isi dan sebenarnya tra betul-betul untuk cari kebenaran.

Dan ini bukan sepenuhnya tong pu salah - tong tra minta dijajah, tong tra minta semua bentuk modern ini datang sekaligus dalam satu generasi; Eropa sana butuh lima ratus tahun untuk dong sampai ke kesimpulan bentuk-bentuk itu. Tapi sekarang tong su ada di sini, dan trada yang akan bangun pondasi untuk tong selain tong sendiri. Jadi selalu pertanyakan bentuk-bentuk ini - dari pemerintah, dari peradaban luar - walaupun bentuk-bentuk ini sudah fungsional dan kesannya terlambat.

Lapisan ketiga: Kenyamanan dalam Ketidaktahuan#

Lapisan ketiga, dan ini yang paling susah dibahas tanpa dapat bicara balik, adalah ini: kadang orang yang sudah nyaman dengan bentuk yang dia tiru itu, dong akan marah sama orang yang datang tanya “ini kenapa harus begini?” Karena pertanyaan itu mengancam dong pu kenyamanan, mengancam dong pu status, mengancam “kebenaran” yang dong su pegang teguh bertahun-tahun. Ini bukan khusus orang Papua atau Indonesia, ini sifat manusia secara umum, di mana-mana sama. Tapi di tempat di mana semua orang lagi belajar di saat bersamaan, di mana belum ada banyak generasi yang sudah bangun pondasi sendiri sebelumnya, gesekan ini lebih keras dan lebih melukai. Orang yang berani eksplor cara lain dianggap sombong, dianggap “merasa tau”, dianggap kebarat-baratan, dianggap lupa adat - padahal yang dia lakukan justru lebih dekat dengan semangat ilmu yang sebenarnya, dan jujur saja juga lebih dekat dengan semangat adat yang sebenarnya, karena tong pu adat dulu juga lahir dari orang-orang yang berani tanya, berani coba, berani salah, berani perbaiki.

Penutup: Integritas dan Aerodinamika#

Yang Feynman bilang di akhir pidato itu sederhana saja: integritas ilmiah itu bukan pake jas lab, bukan publish di jurnal bergengsi, bukan punya gelar yang panjang. Integritas itu kemauan untuk jujur kepada diri sendiri, dan menerima kemungkinan bahwa ko bisa salah. Bentuk luar bisa ditiru dengan mudah, semua orang bisa tiru bentuk dalam satu hari kalau dong mau. Yang susah ditiru, yang butuh waktu lama dan butuh keberanian yang sebenarnya, adalah pertanyaan dasar yang harus tong tanya diri sendiri setiap hari: apa yang sebenarnya tong cari? Apa yang sebenarnya tong mau bangun? Pesawat sudah datang ka belum? Kalau belum, kenapa belum?

Dan ini yang sa rasa tong perlu dengar, terutama yang baru masuk ke kampus atau organisasi atau bentuk-bentuk struktur/kerangka/scaffolding ketat dari luar macam struktur pemerintahan: semua ini maksudnya bukan supaya tong tinggalkan budaya, bukan supaya tong tolak modal yang datang dari luar, bukan supaya tong hanya duduk kritik dan komentar tanpa pernah bangun apa-apa. Tapi supaya tong tra cuma tiru bentuk, dan supaya tong tra pernah puas terima “bentuk-bentuk” scaffolding yang sudah jadi saja, dari luar, atau yang tong su pikir dari dalam macam adat. Kalau kam bangun lab, tanya: pertanyaan-pertanyaan besar apa yang sebenarnya tong mau jawab di lab ini? Kalau kam bikin organisasi, tanya: masalah apa yang tong mau selesaikan, dan bagaimana tong tau kalau tong sudah selesaikan? Kalau kam bikin acara, tanya: setelah acara ini selesai dan semua orang pulang, apa yang berubah, dan siapa yang akan tindak lanjut? Kalau kam puji ade-ade dong atau sodara yang baru mulai sesuatu, puji dengan jujur dan dengan empati yang sebenarnya: “ini bagus untuk memulai, sa bangga, sekarang coba yang lebih susah, sa percaya ko bisa.” Bukan “ko su luar biasa, ko su hebat, ko jenius.” Karena kalimat/frase begitu, walaupun manis, sebenarnya langsung batasi de pu diri, langsung kasih dia “langit-langit” yang de sendiri tra sadar de su pasang di atas kepala sendiri.

Yang tong butuh sekarang, sa kira, itu kemauan untuk lihat landasan-landasan yang tong sudah bangun bertahun-tahun ini dan tanya dengan jujur: pesawat sudah datang ka belum? Kalau belum, kenapa? Dan kalau jawabannya adalah “karena tong belum paham aerodinamika,” maka langkah selanjutnya jelas - tong harus belajar aerodinamika, tong harus duduk dan mulai dari dasar, walaupun memalukan dan terlambat. Bukan bangun landasan yang lebih besar, lebih panjang, karpet lebih merah, pita lebih panjang, teriak lebih besar, bakar batu dengan jumlah babi lebih banyak.

Maksudnya tulisan ini adalah harapan kalau semua cukup besar dan cukup meriah, itu karena pesawat yang tong su punya juga su cukup besar, yang bisa terbang keluar masuk bawa bama sendiri. Karena de tra akan datang dari luar terus.


Catatan: Tulisan ini terinspirasi dari pidato Richard Feynman “Cargo Cult Science” (Caltech, 1974), dan dari konsep Goodhart’s Law oleh Charles Goodhart. Cerita cargo cult dari PNG dan Vanuatu didokumentasikan oleh banyak antropolog setelah Perang Dunia II, walaupun cara dong dokumentasikan sendiri juga punya masalah - tapi itu cerita untuk tulisan lain.

Sindrom Seremonial: Pesawat yang Tidak Pernah Tiba
https://yose.is-a.dev/id/blog/sindrom-seremonial
Author Yose Marthin Giyay
Published at May 7, 2026
Comment seems to stuck. Try to refresh?✨