yose.is-a.dev

Back

Curhat 2 Jam soal Tuhan di Reddit, Sekarang Versi BlogBlur image

Awal Mula (alias Sore yang Habis Sia-sia di Reddit)#

Jadi saya habis ngabisin sekitar 2 jam buat ngebalas postingan di Reddit (jangan dijudge ya). Pas selesai nulis, eh postingannya keburu dihapus sama mod T-T. Karena tulisannya udah panjang, daripada dibuang ya saya pindahin aja ke sini.

Untungnya cache browser saya masih nyimpen.


Berikut postingannya. Injil menurut u/[deleted]#

Change My View: Saya gak percaya Tuhan karena konsepnya bodoh banget#

Konsep Tuhan yang katanya Maha Pengasih tapi nyiptain orang yang cacat dan jahat terus dikirim ke neraka itu bodoh banget. Kalau Tuhan tahu segalanya, ngapain Dia bikin orang menderita dan masuk neraka. Hampir gak ada bukti kejadian di Alkitab beneran terjadi selain Yesus emang orang yang nyata. Dan, ini bener-bener bodoh. Dibikin sama orang-orang yang gak tahu kalau perempuan yang nulis bukan dukun, atau bahkan cara nyembuhin penyakit. Kalaupun Tuhan ada (yang saya 99,99% yakin gak ada), Dia tetep bukan Maha Pengasih. Saya dibesarin sebagai Kristen seumur hidup tapi engga, ini bodoh banget.


Sebenernya saya pas balas ini langsung mode Akshually tanpa peduli sama emosinya si OP atau audiensnya sama sekali. Kayak dateng ke kebakaran sambil bawa Fahrenheit 451 buat diskusi tema sastranya; jelas tulisan saya ini gak akan mengubah pandangan siapapun. Tapi ya udah, ini komentarnya (saya kasih sub-judul biar enak dibaca).

Khotbah 2000 Kata yang Gak Ada yang Minta#

tl;dr: ide-ide religius (Tuhan, mitos, kitab) berkembang sebagai alat budaya yang ngerangkum heuristik moral, bantu kita koordinasi sosial, dan ngasih ideal yang memotivasi. Itu gak membuktikan ada Tuhan supranatural, tapi menjelaskan kenapa ide-ide ini bertahan dan kenapa bisa berguna secara moral. Kalau kamu kesel sama penderitaan, sekarang kita udah punya kebijakan sosial, kedokteran, etika, dll yang dulu belum ada. Penderitaan sekarang lebih ke isu struktural/politis. Dan “jahat” mungkin cuma ilusi.

Tulisannya panjang banget, tapi coba dibaca sampai habis.

Tuhan yang Mana Sih yang Lagi Kita Debatin?#

Pertama, klarifikasi dulu. Orang-orang punya makna yang beda kalau ngomong “Tuhan.”

  1. Tuhan-sebagai-pribadi: makhluk supranatural yang ikut campur, mengadili, memberi pahala, menghukum.
  2. Tuhan-sebagai-ide: simbol atau ideal pengorganisir (kesempurnaan, cinta tertinggi, pengorbanan) yang dipakai budaya untuk membentuk perilaku.

Kalau (1) terasa gak masuk akal, kamu gak sendirian — banyak filsuf dan ilmuwan juga ragu. Tapi (2) itu di mana sejarah manusia tinggal.

Saya jelasin dulu: saya ateis. Dibesarin di keluarga Katolik, lalu nyemplung ke fisika, ngambil S1-nya, terus pelan-pelan lepas dari pemikiran ada bapak tua berjenggot di atas sana yang micro-managing hidup saya — entah saya kebanyakan onani atau apalah.

Yang akhirnya saya hargai bukan Tuhan (1), tapi Tuhan sebagai konsep, sebagai cerita. Saya mulai liat mereka kayak liat Epic of Gilgamesh, Hamlet, atau Harry Potter sejak baca lebih banyak seni dan sejarah, dan beberapa pemikir kayak Spinoza, Nietzsche, Jung. Dari situ saya nyampe ke kesimpulan berikut.

Pendapat saya (belum tentu original, kemungkinan besar sintesis dari semua yang saya konsumsi): Tuhan itu semua hal yang membedakan kita dari binatang “tanpa otak”. Ada alasan kenapa antitesis Tuhan adalah binatang yang chaotic (666 tuh?); banyak dosa abadi tuh aksi manusia yang cuma ngikutin insting kebinatangan (amarah, malas, dorongan seksual, dll) tanpa peduli sama keseluruhan komunitas atau kemanusiaan dirinya sendiri.

Pernah liat berang-berang ngorbanin diri demi sebuah ide? Manusia pernah; minimal kita tahu ada satu yang pernah… kayak Yesus (orangnya). Dan kayaknya kita memang butuh figur yang rela ngorbanin diri sesekali.

Cerita-cerita ini ngerangkum ide-ide abstrak, dan penting banget.

Agama: Zip File Moral Manusia#

Kita manusia harus mampatin informasi biar bisa diturunin tiap generasi. Kalau lebih gampang nurunin daftar bullet apa yang harus dilakuin dan jangan dilakuin demi kebaikan diri/komunitas/spesies… ya kemungkinan udah dari dulu kita ngelakuin. Tapi tulisan itu penemuan baru, dan gak semua orang punya waktu buat itu. Boring juga, anak-anak bakal nanya “ngapain juga ngikutin aturan-aturan ini?”.

Dengan cerita, kamu cukup bercerita perumpamaan pendek yang kepadat-padatannya bisa makan waktu jenius kreatif buat ngurai apa makna tiap aspeknya.

Saya curiga Yesus sebagai pribadi atau mungkin penulis-penulis Yohanes (atau pengikut-pengikut lain di sekolah pemikiran Yohanes) tahu pentingnya cerita; tuh kan, “Akulah Sang Firman”.

Sebelum sains atau psikologi, mitos adalah algoritma kompresi kita — cara nyimpen pengetahuan kompleks soal perilaku, etika, dan bertahan hidup dalam narasi yang gampang diinget (buku David Sloan Wilson Darwin’s Cathedral berargumen persis ini: agama itu adaptasi tingkat kelompok).

Neraka Bukan Soal Api dan Belerang, Tapi Kamu Lagi Asu#

Bilang kaum teis bodoh karena nemuin Neraka itu kayak bilang arsitek bodoh karena nemuin pintu — keduanya respon terhadap masalah (nahan sesuatu di luar). Tool dipake jelek bukan berarti konsepnya gak pernah berguna.

Neraka mungkin lebih ke konsekuensi alamiah dari hidup yang penuh self-absorption (“insting kebinatangan” tadi). Isolasi yang kamu pilih sendiri, judgement orang lain, dll.

Ada alasan cerita Yesus melekat di banyak peradaban lintas waktu. Susah buat manusia ngehargain pengorbanan rendah hati semata-mata karena cinta. Susah buat kita ngehargain mengorbankan kebutuhan sekarang demi masa depan yang lebih baik padahal itu yang seharusnya selalu kita lakuin. Kuliah, nabung, makan sehat, olahraga, kerja keras — semua bentuk modern dari pengorbanan yang kita lakuin sekarang demi masa depan. Susah ngelakuin itu tanpa ideal yang ngelarin pengorbanan diri.

”Pada mulanya adalah Sang Firman, dan Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah”.#

“Firman” di sini artinya Logos (Yunani), kira-kira “struktur rasional, semacam pola”.

Ini topiknya Spinoza banget. Deus sive Natura-nya (“Tuhan atau Alam”). Buat Spinoza, Tuhan itu “struktur.” Tuhan bukan pribadi yang bikin aturan; Tuhan itu aturannya. Tuhan itu jumlah total realitas, termasuk kita.

Lewat lensa ini, masalah “kejahatan” jadi cuma ilusi manusia. Tsunami ya alam lagi ngerjain tugasnya. Buat dia, Tuhan gak “bikin” orang jahat. “Jahat” itu label yang kamu taro ke orang yang aksinya konsekuensi dari “struktur” alam semesta — rantai kausal deterministik. Kamu cuma kesel sama realitas, sama fisika, sama alam semesta — bukan sama “Tuhan”.

Wortel Eksistensial di Ujung Tongkat#

Tuhan sebagai konsep juga berfungsi sebagai ideal (Tuhan sebagai kesempurnaan, cinta dan pengorbanan tertinggi, bapak ideal, dan hakim yang adil) yang manusia mungkin gak akan pernah capai.

Ternyata kita manusia butuh objektif yang gak bisa dicapai biar kita gerak/ngelakuin sesuatu. Ideal ngasih kita tujuan. Ideal itu fiksi yang berguna yang ngoordinasi perilaku sosial.

Itu juga kenapa “Tuhan sudah mati”-nya Nietzsche sebenernya dia takut kita beneran kehilangan tujuan tinggi buat maju, dan kita ngegantiin Tuhan asli dengan fasad — agama sebagai alat virtue signaling (solusinya ya Übermensch, manusia yang nyiptain nilai-nilainya sendiri tanpa harus ngikutin ideal pre-existing).

Kenapa Semua Orang Mikir Tuhan Itu Cowok di Awan#

Ada alasan kenapa orang gampang nyampurin dua hal tadi: Tuhan sebagai “laki-laki tua berjenggot di atas sana”, dan Tuhan sebagai… sesuatu yang lain. Justru karena saking abstrak dan dalam dan tersebarnya, lebih gampang buat kebanyakan orang baca pake lensa praktis dan keluar bawa pemikiran “bapak berjenggot” tadi.

Tapi ya udah, semua ide ini bukan jawaban final dari saya. Lebih ke cara saya, sebagai seseorang yang udah lepas dari iman tapi masih hargain teksnya, mencerna sesuatu yang saya kira awalnya cuma “bodoh banget” pas kuliah dulu.

Alkitab ditulis selama ribuan tahun sama orang-orang dari berbagai latar belakang, sama pemikir, filsuf, sekolah pemikiran macem-macem, dipampatin ke buku saku yang anak-anak random bilang bodoh cuma karena lagi ngambek sama mama Kristen-nya.

Dan kita bahkan belum sentuh agama-agama lain, padahal banyak paralelnya.

Epic of Gilgamesh, Upanishad, Tao Te Ching, dan Al-Qur’an itu variasi dari proyek manusia yang sama: nyoba ngeenkode etika dan makna lewat metafora. Saya jadi mulai hargain teks-teks ini sebagai artefak manusia yang lagi gulat sama pertanyaan eksistensial besar.

Saya gak percaya Tuhan yang ngadili, tapi saya rasa saya ngerti kenapa manusia butuh satu. Dan itu, buat saya, jauh lebih menarik daripada sekadar bilang “bodoh banget” terus pindah feed.

Curhat 2 Jam soal Tuhan di Reddit, Sekarang Versi Blog
https://yose.is-a.dev/id/blog/views-on-god
Author Yose Marthin Giyay
Published at October 19, 2025
Comment seems to stuck. Try to refresh?✨